Aku terdiam di samping tempat tidurku. Perlahan aku duduk dan menyandarkan punggungku ke tempat tidur. Ada sesuatu yang berdenyut menyakitkan terselip di antara rasa takut kehilangan seorang sahabat. Menghilangkan rasa nyaman yang selama ini kurasakan jika bersamanya. Rasa sakit yang berdenyut itu selalu mengarahkan ingatanku pada Dia.
Aku mencoba menghilangkan perasaan itu, kuhapus ingatan-ingatan yang berlalu lalang dan mencoba mengingat hal-hal menyenangkan yang pernah kualami.
Mungkin ini memang sudah menjadi bagian dari perasaanku. Aku tak bisa menghilangkannya dari pikiranku. Setiap mengingat hal-hal yang menyenangkan selalu berujung padanya. Dia selalu
menyeruak masuk ke dalam setiap memori.
Aku kembali mencoba menghilangkan ingatan-ingatan itu dengan mengamati foto-foto yang sempat kuambil. Mulai dari awal aku mengambil foto dengan Kak Lala sebagai objeknya.
Entah perasaanku saja atau ia memang selalu terlihat cantik dalam foto. Satu persatu kutekan panah yang menggeser foto-foto itu secara berurutan tanggal.
Di foto yang kuambil pada 3 April lalu, di sisi sebelah kanan. Aku melihat sebersit bayangan yang membuatku tertohok. Dia terlihat memandang ke arah fokus kamera dengan ekspresinya yang belakangan ini sering ia tampilkan padaku. Sulit diartikan.
Begitu juga dengan dua foto lainnya yang kuambil pada 15 Januari dan 30 November. Terlihat Dia di salah satu sudut foto tengah memandang fokus kamera dengan tatapannya yang sulit diartikan.
Sampai pada foto yang kuambil pada tanggal 27 Agustus, hampir 2 bulan setelah masuk sebagai siswa SMA. Terlihat Kak Lala sedang duduk bersama seorang siswi dan tampaknya sedang mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan siswi tersebut. Tapi di sisi sebelah kanan foto, di belakang tempat Kak Lala sedang berbincang, ia kembali terlihat, namun kali ini dengan ekspresi yang dingin. Aku bahkan tak mengamati foto ini dulu.
Aku terdiam mengingat empat foto yang menangkap ekspresi yang membuatku semakin penasaran. Ekspresi yang sering Dia tujukkan padaku. Aku mengingat banyak hal mengenai Dia yang tak kuketahu, mengingat ekspresi yang sering ia tunjukkan kapan dan pada siapa.
Aku tersentak ketika menyadari apa yang harus kulakukan. Ekspresi itu sama dengan ekspresi yang ia tunjukkan saat ia melihat seorang kakak kelas yang sedang duduk berdua dengan kekasihnya. Senyum yang selalu ia tunjukkan padaku ketika ia berhasil mencetak gol ke ring lawan. Senyuman yang selalu ia bagikan padaku ketika ia merasa senang.
aku melengkungkan bibirku, tersenyum dengan apa yang kurasakan. Hangat. Seperti apa yang kurasakan saat pertama kali menyadari bahwa ia tengah berbicara padaku.
Sabtu, 19 Januari 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar