"Hei!"
Aku menoleh, mendapati sahabatku terdiam menatap bunga berwarna matahari. matanya menatap kosong seakan sedang berfikir untuk merangkai kata-kata yang akan ia ucapkan.
ia membuka mulutnya hendak berbicara, namun segera mengurungan niatnya. ia menoleh, menatap tepat dibola mataku yang juga menatapnya.
"kenapa?" tanyaku memastikan arti pandangannya. ia memalingkan wajahnya, kembali menatap sekumpulan bunga berwarna kuning matahari.
"aku akan mengungkapkannya. dia sudah berlebihan, dia dengan seenaknya menyerahkan tugas pada guru, seentara kita bahkan tak tahu kalau tugas itu harus dikumpulkan." ia berkata sambil sesekali melirik ke atas, menyalurkan kekesalannya dan menghentakkan kakinya beberapa kali.
"mungkin kau memang harus melakukannya. mungkin dia bisa introspkesi diri dengan itu. siapa yang inggin melawanmu?" balasku sambil tersenyum, berharap dapat sedikit meredakan amarahnya.
"tapi kapan? kau menemaniku ya?" balasnya lagi, kali ini tatapannya melembut, menatap berharap pada kedua mataku.
"aku akan menunggu di luar kelas nanti. kupikir tak adil jika kita berdua sementara dia sendiri." jawabku, kupalingkan wajahku, kembali menatap objek kesukaanku, dan bunga berwarrna matahari itu masih setia berdiri tegak di sana.
"tapi nanti dia tak akan percaya." balasnya sambil menarik lenganku.
"kalau kita berdua, dia juga tak mudah memercayai kita. bisa saja kita berpikir kita hanya bersekongkol untuk menjatuhkannya. bisa juga dia berpikir kalau kita pengecut, tidak berani menatapnya secara empat mata." balasku kembali menatapnya yang sekarang berganti menatap bunga berwarna matahari.
***
"bagaimana?" tanyaku memulai pembicaraan setelah sepanjang perjalanan ke kantin kami saling terdiam.
"dia meminta maaf, tapi aku tak dapat memastikan dia tak mengulangi berbagai hal yanng membuat kepalaku berasap." jawabnya sambil menyandarkan punggungnya di pagar di belakangnya.
"serahkan saja padanya. yang penting sudah ada perwakilan untuk menegurnya." kataku sambil tertawa pelan. ia melebarkan matanya, menatapku tajam. aku tertawa melihat ekspresinya. dia ikut tertawa setelah terdiam sebentar menatapku. sahabat itu menyenangkan.
sulit kadang membuat seseorang merubah sikapnya. tapi itu yang terjadi padaku. tapi jujur itu lebih baik daripada terus menahan batin yang menjerit setiap saat.
Kamis, 24 Januari 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



2 komentar:
Hid, ini pasti based on true story ya ;) rajin-rajin posting blog yuk hid, sharing kegiatan kita masing-masing gitu :3 miss you so! ({})
insya allah sekar, iya. aku sebel sih._.
miss you too ({})
Posting Komentar